Upnusa, SANGATTA – Di balik nama yang sarat filosofi, Desa Singa Gembara menyimpan potensi besar di bidang seni dan budaya. Terletak di Kecamatan Sangatta Utara, desa ini tumbuh dari akar budaya lokal yang kuat, tercermin dari nama “Singa Gembara” yang berasal dari tokoh adat penting Suku Kutai.
Sekretaris Desa Singa Gembara, Nuryadin, menuturkan bahwa nilai sejarah dan keberagaman budaya merupakan kekayaan utama desa yang terus dijaga dan dikembangkan. Menurutnya, identitas budaya tidak hanya menjadi warisan, tetapi juga modal sosial untuk membangun kebersamaan warga.
“Keberagaman suku dan budaya di sini adalah kekuatan. Kami ingin menggali potensi itu melalui seni, festival budaya, dan kegiatan masyarakat yang melibatkan semua elemen,” ujar Nuryadin belum lama ini.
Desa Singa Gembara dihuni oleh masyarakat dari berbagai latar belakang suku, mulai dari Kutai, Jawa, Banjar, Minangkabau, Toraja, Madura, Bugis, hingga suku-suku lainnya. Keberagaman tersebut menjadikan desa ini ditetapkan sebagai salah satu Kampung Moderasi Beragama, di mana nilai toleransi dan saling menghormati tumbuh dalam kehidupan sehari-hari.
Nuryadin menjelaskan, praktik moderasi beragama telah lama menjadi bagian dari keseharian warga. Berbagai perayaan keagamaan dilaksanakan secara terbuka dan penuh kebersamaan, melibatkan lintas umat dan komunitas.
“Kalau Natal, kami menggelar perayaan Natal bersama. Saat Idulfitri, kami juga melaksanakan silaturahmi bersama. Semua warga ikut merasakan suasana kebersamaan tanpa sekat,” tambahnya.
Potensi seni dan budaya yang dimiliki Singa Gembara juga sejalan dengan arah kebijakan pemerintah daerah dalam mendorong pengembangan desa wisata berbasis budaya. Meski belum memiliki agenda seni rutin berskala besar, desa ini dinilai memiliki fondasi yang kuat untuk mengembangkan sektor ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.
Ke depan, pemerintah desa membuka ruang kolaborasi lintas suku dan komunitas seni. Nuryadin berharap Singa Gembara dapat menghadirkan Festival Keberagaman yang menampilkan seni tari, musik tradisional, hingga kuliner khas dari berbagai etnis yang hidup berdampingan di desa.
“Kami ingin menunjukkan bahwa dari keberagaman bisa lahir kesatuan. Seni dapat menjadi jembatan untuk memperkuat rasa persaudaraan dan kebersamaan warga,” katanya.
Dengan komitmen menjadikan seni dan budaya sebagai salah satu pilar pembangunan, Desa Singa Gembara optimistis mampu tumbuh sebagai desa yang inklusif, harmonis, dan berdaya saing. Kekayaan identitas lokal yang berpadu dengan semangat hidup rukun antarwarga menjadikan Singa Gembara memiliki modal kuat untuk menjadi contoh desa berbasis budaya di Kutai Timur. (Adv/diskominfo_kutim)















