Samarinda – Ketimpangan sosial di wilayah pedalaman Kalimantan Timur kembali mencuat ke permukaan. Ekti Imanuel, Wakil Ketua I DPRD Kalimantan Timur, menyuarakan keprihatinannya terhadap masih tingginya angka kemiskinan di Kutai Barat (Kubar) dan Mahakam Ulu (Mahulu), dua kabupaten yang berbatasan langsung dengan pedalaman Kalimantan.
Menurut Ekti, tingginya jumlah penduduk miskin di kedua daerah itu perlu ditangani dengan serius. Ia menekankan bahwa kepala daerah yang baru dilantik diharapkan segera merealisasikan visi misi pembangunan yang konkret, dan pemerintah provinsi akan terus memberikan dukungan penuh.
“Kita tahu bupati di Kubar masih baru. Mereka pasti punya visi untuk memajukan daerahnya masing-masing. Kami dari DPRD dan Pemprov Kalimantan Timur akan terus mendukung langkah-langkah yang diambil,” ujar Ekti Imanuel pada Sabtu (17/5/2025).
Berdasarkan data BPS Kutai Barat tahun 2024, tercatat sekitar 14,49 ribu jiwa atau 9,56 persen penduduknya masuk dalam kategori miskin. Di Mahulu, angka kemiskinan bahkan lebih tinggi secara persentase, mencapai 10,75 persen atau setara 2.900 jiwa. BPS mencatat garis kemiskinan di Mahulu mencapai Rp792.742 per kapita per bulan, meningkat 7,03 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Meski Kalimantan Timur berada di peringkat ketiga terendah secara nasional dalam tingkat kemiskinan ekstrem—di bawah Bali dan Kepulauan Riau—namun Ekti menilai pemerataan pembangunan antardaerah masih jauh dari merata.
Ia pun mendorong agar penanganan kemiskinan tak hanya mengandalkan bantuan sosial semata, melainkan juga melalui strategi jangka panjang yang menyentuh penguatan ekonomi lokal serta pembangunan infrastruktur yang membuka akses dan peluang kerja bagi masyarakat.
“Kita ingin daerah-daerah seperti Mahulu dan Kubar tidak tertinggal. Dengan sinergi yang kuat antara pusat, provinsi, dan kabupaten, kita bisa menurunkan angka kemiskinan dengan lebih cepat dan efektif,” tegasnya.
Dengan langkah yang terkoordinasi dan dukungan lintas sektor, Ekti optimistis pembangunan yang adil dan inklusif dapat segera dirasakan oleh seluruh masyarakat Kalimantan Timur, termasuk di kawasan yang selama ini terpinggirkan. (ADV).















