Samarinda – “Kalau semuanya clear prosedurnya dan aman, Kaltim tentu bisa jadi lokasi uji coba vaksin TBC.” Pernyataan itu disampaikan Andi Satya Adi Saputra, Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kalimantan Timur, merespons rencana kerja sama vaksinasi Tuberkulosis (TBC) antara Indonesia dan Gates Foundation yang mulai bergulir di pertengahan 2025.
Menurut Andi, kesiapan fasilitas kesehatan di Kalimantan Timur secara umum sudah memadai untuk menjadi lokasi uji coba. Namun, keputusan akhir tetap harus berlandaskan data prevalensi dan kebutuhan epidemiologis yang disusun oleh pemerintah pusat.
“Kalau soal fasilitas, saya rasa Kaltim bisa saja. Dengan catatan, selama semua tahapan dan prosedurnya jelas serta aman, tentu itu memungkinkan,” ujarnya saat ditemui di Gedung DPRD Kaltim.
Ia menjelaskan, penetapan lokasi uji coba akan mempertimbangkan daerah-daerah dengan beban kasus TBC tinggi. Untuk itu, keputusan tetap berada di tangan Kementerian Kesehatan dan lembaga terkait, termasuk BPOM dan Gates Foundation yang menjadi mitra strategis program ini.
Berdasarkan data per Desember 2024, estimasi kasus TBC di Kalimantan Timur mencapai 21.686. Sayangnya, tingkat deteksi baru mencapai 54 persen, jauh di bawah rata-rata nasional yang telah menyentuh 80 persen. Sementara itu, cakupan pengobatan untuk kasus TBC sensitif obat (SO) mencapai 88 persen, dan untuk TBC resisten obat (RO) baru 53 persen—menjadikan Kaltim salah satu provinsi dengan capaian pengobatan RO terendah di Indonesia.
Meski demikian, Andi Satya meminta masyarakat tidak resah terhadap rencana vaksinasi ini. Ia menegaskan, uji coba vaksin bukan percobaan sembarangan, melainkan langkah terukur dan ilmiah yang justru memberi harapan baru untuk mengendalikan penyakit menular kronis tersebut.
“Kita tidak perlu antipati terhadap program ini. Kalau berhasil, ini akan berdampak luas dan menyelamatkan banyak jiwa, termasuk warga Kaltim,” tegasnya.
Andi juga menambahkan bahwa hingga saat ini, pihaknya belum menerima petunjuk teknis resmi dari pemerintah pusat. Namun ia yakin akan ada koordinasi intensif sebelum penentuan lokasi dilakukan secara definitif.
Dengan kesiapan infrastruktur dan potensi kontribusi besar terhadap penanggulangan TBC, Kalimantan Timur menanti lampu hijau untuk ambil bagian dalam langkah besar dunia kesehatan ini. (ADV).















